Sabtu, 27 Mei 2017

Galeri Makam Simbah Makukuhan Kedu Temanggung


































YASONA-Wadah Bersosial Nahdliyin Tembarak


Sebagai mahluk sosial tentu kita tak mampu lepas diri dari interaksi sosial. Suka, duka, gotong royong, silaturahim dan lain sebagainya merupakan sekelumit contoh dalam interaksi sosial. Salah satu masalah sosial yang saat ini kian menyubur, satu diantaranya masih tingginya kesenjangan yang terjadi pada lapisan masyarakat. Termasuk masalah pendidikan bagi anak, terutama anak kurang beruntung yang tak mampu menyetarakan dirinya dalam mengenyam pendidikan-utamanya pendidikan formal. Pernah suatu saat saya sowan kepada salah satu tokoh NU Temanggung. Saya sowan cukup pagi ketika itu. Meskipun perasaan kurang sreg menghantui pisowanan saya ketika itu. Namun persaaan itu lenyap seketika pasalnya pagi yang cukup buta itu sudah ada ibu-ibu setengah baya, yang lebih pagi ngantri di rumah sang tokoh. Ternyata sang ibu bermaksud mengajukan bantuan santunan untuk pendidikan anaknya. Meskipun yang kali kedua tetap ia lakoni demi pendidikan anak yang kurang beruntung itu.
“Lha kemaren panjenengan-kan sudah minta!”, tanya sang tokoh. “Nanti kalau penjenengan minta lagi bagaimana dengan yang lain? Kan gak kebagian?”, tambahkan sang tokoh.
“Saya benar-benar butuh Pak Kyai, ini saya beranikan diri untuk daftar sekolah anak saya”, jawab sang ibu dengan polos.

Lumbung Nadliyyin
Kuping saya tak mampu menghindar dari perbincangan keduanya. Dalam benak saya berbisik :” Subhan-Alloh sesibuk itu beliau masih sempat ngurus masalah santunan bagi orang lain”, bathin saya cukup tertantang untuk melakukan hal yang sama. Masih dengan moto yang sama yakni mendarma baktikan diri bagi kemanfaatan orang lain. Hingga puncaknya uneg-uneg tersebut saya luapkan kepada banom pemuda milik NU-Ansor sebagai solusi. Sebuah usulan saya sampaikan sedemikian rupa, hingga mufakatlah sebuah konsep kasar yang dijadikan sebagai acuan. Rapat penyampaian konsep tersebut digelar di Dusun Jurang Jero Krajan Tembarak. Lumbung Nahdliyyin disepakatilah sebuah nama wadah sosial yang didirikan Ansor Tembarak ketika itu. Nama Nahdliyyin sengaja muncul sebagai wujud sebuah kesemangatan bersama untuk berkhidmah sosial bagi warga Nahliyyin secara jam’i bukan sektoral Ansor saja. Hingga ke depan itu sebagai alat bersosial bersama seluruh stakeholder NU Tembarak harap Ansor ketika itu.

Melanjutkan Program MWC
Konsolidasi tak hanya sampai disitu. Ansor sebagai motor penggerak terus berupaya mencari dukungan dari Banom NU yang lain,termasuk dari MWC NU Tembarak. Hingga ujungnya digelarlah rapat bersama seluruh stakeholder NU Tembarak, MWC NU Tembarak diwaliki oleh Bapak Nur Faro’i (Almarhum), Muslimat NU, Fatayat NU serta IPNU dan IPPNU.
“Untuk ngurusi masalah sosial Ansor tidak usah mendirikan lembaga baru, MWC sudah punya Yayasan Sosial al-Mu’awanah, silahkan bisa dikelola, diopeni dan dilanjutkan program-programnya”, itulah pesan Bapak Nur Faro’i mewakili MWC NU Tembarak. “Besuk di rapat MWC NU akan saya sampaikan kepada MWC sehingga Yasona yang sudah dirintis pendahulu MWC bisa kopen dan membawa kemanfaatan”, itulah kira-kira harapan Pak Nur (panggilan Bapak Nur Faro’i) kepada Ansor Tembarak. Hingga akhirnya Ansor menyepakati untuk menggunakan wadah itu sebagai bentuk khidmah kepada warga Nahdliyyin lewat lembaga sosial, yang hal tersebut tentu saja diamini oleh banom yang lain.
Akta Notaris Yayasan Sosial al-Mu'awanah

Sekelumit sejarah Yasona
Yasona berdiri di Desa Purwodadi bertepatan Ahad Legi 21 Juli 1991 atau 9 Muharram 1412 hijriyah. Ketika itu belum terbit perda pemekaran wilayah antara Tembarak-Selopampang, sehingga wilayah Selopampang masih menjadi bagian dari Kecamatan Tembarak, jadi banyak tercatat tokoh dan Kyai Selopampang di dalamnya.
4 tokoh sebagai Perintis, yakni : Bapak Ishadi (Mantenan Greges) yang kebetulan beliau sebagai Ketua MWC NU Tembarak ketika itu, Bapak Abu Hasan (Kacepit Tembarak-sekarang Kacepit Selopampang), Bapak Thohuri Ms, BA (Botoputih Tembarak) Kepala SMA Islam Sudirman Tembarak, dan Bapak Prasetyo Djali, BA (Purwodadi Tembarak).
Sebagai Fungsionaris tercatat 5 nama Kyai, yakni : Simbah KH Cholil Asy’ari (Ngaditirto Tembarak, sekarang Bolong Ngaditirto Selopampang) pengasuh Ponpes Darul Muttaqien Selopampang, Bapak KH Djueni (Greges Tembarak)-mantan anggota DPRD Temanggung, Simbah Kyai Muchlasin (Tawangsari Tembarak)-Pengasuh Ponpes Tawangsari Gondangan Tembarak sekaligus Rois Syuriyah MWC NU setelah pemekaran wilayah Tembarak-Selopampang, Simbah Kyai Rofi’i (Tawangsari Tembarak)-Pengasuh Ponpes Gondangan Kulon Tawangsari Tembarak, dan Bapak Kyai Hasyim (Kemloko Bumiayu Tembarak, sekarang Kemloko Bumiayu Selopampang) – Rois Syuriah MWC NU Selopampang yang pertama setelah pemekaran wilayah.
Adapun yang tercatat sebagai Badan Pengurus Yayasan, yakni : Bapak Prasetyo Djali, BA (Purwodadi Tembarak) selaku Ketua, Bapak Muh Musrup (Greges Botoputih) selaku Wakil Ketua-Beliau salah satu Guru di Mts Botoputih ketika itu, Bapak Thoha Abdurohim (Gambasan Selopampang)-beliau Ketua LP Ma’arif ketika PCNU Temanggung diasto oleh Bapak Kyai Tadjuddin Noor, beliau bertindak sebagai Sekretaris, dan Ibu Nyonya Hajjah Sri Azizah sebagai Bendahara (saat ini sebagai Ketua Muslimat NU Tembarak).
Selain tokoh tersebut diatas juga tersirat beberapa nama lain diantaranya : Bapak Drs. Muh Ridwan (Bagusan Tembarak, sekarang Bagusan Selopampang), Bapak Nur Qomar (Salamrejo Tembarak, sekarang Salamrejo Selopampang), dan Bapak Muh Nasekhun (Kacepit Tembarak, sekarang Kacepit Selopampang) sekarang Kepala Madrasah MTs Wadas Kandangan. Dari beberapa tokoh tersebut ada yang sudah dipanggil sowan menghadap kepada Alloh, namun sebagian yang lain saat ini masih berkiprah aktif berkhidmad kepada NU baik struktural / kultural.
Yasona Saat ini
Pasca penyerahan lembaga tersebut, hingga saat ini sudah tercatat banyak khidmah sosial kepada warga nahdliyyin. Diantaranya Santunan Yatim piatu, santunan kesehatan, santunan santri salaf, santunan korban kebakaran, bantuan lembaga untuk TPQ, serta santunan sosial yang lain. Adapun sumber donasi saat ini bersumber dari 2 sumber, dari donatur tetap bulanan dan kotak yasona yang tersebar di sebagian wilayah Tembarak, Selopampang dan Temanggung.
Demikian tulisan ini senantiasa saya tulis dalam rangka memupuk kesemangatan kita untuk senantiasa menggali sejarah masa lampau sebagai media pembelajaran kita saat ini, dan sebagai tonggak perjuangan kita dalam masalah sosial (Bi qodril imkan). Akhirnya rasa terimakasih yang tak terhingga terkhusus bagi para muassis Lembaga ini, kami yakin ini salah satu sumbangsih yang nyata bagi warga Nahdliyyin, tanpa menisbikan pengabdian yang lain tentunya. Kami yakin pula apa yang sudah panjenengan semua perbuat lantaran lembaga ini senantiasa akan menjadi amal jariyah yang mengalir memenuhi ruang-ruang kosong di alam kelanggengan, amin.

Sumber tulisan :
Salinan Akta Notaris Nomor 21 Tanggal 11 Pebruari 1993 yang diterbitkan oleh Kantor Notaris & Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Elly Dradjati Moelyono,SH.

Stiker Yayasan Sosial al-Mu'awanah yang ditempel pada kotak infaq

Pengurus meninjau korban kebakaran di Kemloko Tembarak sebelum menyerahkan bantuan

Penyerahan Santunan Yatim-Piatu yang dihadiri Bupati Temanggung (10/05/2017) di Halaman Kantor Kecamatan Tembarak

Sabtu, 06 Mei 2017

KERINDUAN SUNAN MADUSARI KEPADA BAGINDA

SUNAN MADUSARI. Sebuah nama yang cukup asing di telinga kita, terutama warga Temanggung. Apalagi warga luaran Temanggung. Bila Anda berkesempatan berkunjung ke Tembarak, bisa Anda sempatkan untuk berziarah ke makam beliau. Makam beliau terletak di sebelah barat dusun Botoputih, sebelah timur makam Ngawen, persis di pinggir jalan raya sebelah kanan jalan bila Anda datang dari arah timur. Makam Gasari atau Nggasari masyarakat sekitar menyebutnya. Makam beliau dikerumuni beberapa pohon yang cukup tinggi, bebatuan hijau (karena dikerumini lumut hijau) yang memenuhi di atas pusara makam. Nuansa alami dan natural bisa Anda nikmati ditempat tersebut karena jauh dari kerumunan hiruk pikuk manusia, meskipun di pinggir jalan namun terasa sunyi dan senyap.
Sunan Madusari merupakan sebuah julukan. Seperti nama sunan yang lain. Sunan Kalijogo, Sunan Bonan, Sunan Ampel, Sunan Geseng juga nama sunan lainnya. Sedianya semua sunan tersebut memiliki nama asli. Termasuk sunan Madusari ini. Beliau bernama Sayyid Muhammad bin Utsman Basyaiban. Beliau berasal dari Magelang Jawa Tengah. Termasuk satu dari kesekian wali mastur yang memang jarang diketahui kewaliannya. Beliau salah satu dhuriyyah Rasul yang memiliki banyak keistimewaan. Satu dinatara keistimewaan beliau yakni tangan yang selalu bersambung erat kepada tangan Baginda Rasulillah Muhammad SAW.
Meskipun beliau keturunan Nabi, namun beliau juga memiliki kebiasaan seperti manusia pada umumnya. Makan, tidur, mencari nafkah, berkeluarga, menghidupi keluarga dan kebiasaan lainnya. Sehingga tak heran bila suatu saat beliau juga dirundung beberapa masalah yang cukup pelik untuk dipecahkan. Masalah keluarga dan ekonomi merupakan beberapa masalah yang cukup menghimpit kehidupannya. Lazimnya manusia beriman beliau memutuskan untuk bermunajah. Tentu saja dengan hajat mencari petunjuk kepada Alloh untuk mencari jalan keluar guna terbebas dari masalah yang sedang merundung. Munajat dengan kontinu beliau lakukan. Hingga suatu saat beliau mendapat sebuah wisik (ilham). Dalam wisiknya disebutkan bahwa beliau mendapat perintah untuk melakukan perjalanan ke arah utara untuk mencari tempat riyadhoh dan bermunajat. Itu sebagai wasilah mencari jalan keluar dari masalah dan untuk memohon tercapainya hajat hidup yang selama ini beliau idamkan. Dalam wisiknya tergambar jelas :”Bila dalam perjalanan menemukan tanah yang manis dan wangi, berhentilah dan itulah tempat bermunajat yang aku sebutkan”, demikian wisik yang terekam dalam relung Sunan Madusari.
Perjalanan pun beliau lakukan sesuai wisik yang beliau terima. Langkah demi langkah beliau lakukan, naik dan turun gunung tanpa berputus asa, keluar masuk hutan belantara tetap beliau lakoni. Menyusuri sungai dan apapun dalam seluruh perjalanannya. Akhirnya lelah menghampiri sang Habib. Beristirahatlah beliau di sebuah sungai. Sungai itu dipenuhi air yang jernih dan sebuah mata air cukup besar. Di tengah peristirahatannya, tak terasa aroma wangi nan harum tercium oleh hidung mancung beliau. Beliau cium wewangian tersebut dan ternyata berasal dari tanah tempat beliau beristirahat. Setelah itu beliau mecoba mengecap tanah tersebut dan kebetulan ternyata rasanya manis. Beliau beranjak dari peristirahatan. Beliau mengelilingi daerah sekitar sungai tersebut dan akhirnya bertemulah dengan sebuah goa. Beliau masuk dan di dalamnya terdapat ribuan sarang tawon madu memenuhi isi goa. Karena saking banyaknya, hingga madu dari sarang tawon menetes memenuhi tanah yang ada di dalam goa itu. Dan meresap hingga ke bagian dalam tanah, sehingga tanah di sekitar goa menjadi manis. “Inilah tempat yang saya cari selama ini”, bisik sang habib dalam hatinya.
Setelah pencarian tersebut selesai, munajat dan riyadhoh beliau lakukan di dalam goa tersebut. Hingga sekian lama beliau bermunajat, akhirnya beliau bertemu Rasululloh SAW dalam sebuah mimpinya. Betapa bahagia beliau bertemu sang Datuknya. Rasa bahagianya tak mampu tertandingi oleh apapun. Bahkan dunia seisinya tak mampu menandingi keindahan dan kebahagiaan bertemu dengan sang Nabi pujaan. Buah dari kebahagiaan yang memuncak, sang sunan pun lupa akan semua masalah dan hajat yang selama ini terkandung dalam hasratnya, seakan pertemuan dengan Baginda sudah menjadi sebuah jawaban dari segala permasalahan yang menimpanya selama ini.
“Apa permintaan dan hajatmu?” tanya Kanjeng Nabi.
“Saya tak ada hajat apapun Ya Rasul, kecuali diperkenankannya tanganku selalu memegang tanganmu ya Rasul!”, pinta sang sunan kepada Nabi.
Akhirnya Nabi mengabulkan hajat sang sunan, sehingga tangan keduanya saling bertautan. Rasa bergemuruh bahagia yang dipenuhi getaran nubuwah dari kajeng Nabi terus mengalir ke dalam juz-juz rohaniyah dan jasmaniyah sang sunan. Kebahagiaan, ketentraman dan rasa berkecukupan bertambah seiring masuknya nur nubuwah ke dalam jasad dan rohaninya. Tak terasa air mata sang sunan mengalir bagaikan anak sungai yang mengalir dari sumber mata air telaga rajab yang dilimputi semerbak wewangian memenuhi seluruh alam.  Tangisan dari relung hati menyesakkan dada mendorong energi yang ada di seluruh tubuh berkumpul dan bercampur dengan nur nubuwah Rosulillah Saw. Lupa akan semua hajat yang diharap selama bermunajat dan istighotsah selama riyadhohnya. Sang Sunan pun larut tenggelam dalam kebahagiaan yang mendalam lantaran perjumpaannya dengan Baginda, hingga ia tak lagi peduli akan semua hajat yang ia simpan selama ini. Ia tak lagi hiraukan segala kebutuhan duniawi, semuanya sirna lantaran dekapan tangan Baginda, hingga enggan untuk dilepaskan.
“Mintalah kepada Alloh, segala hajatmu akan ku sampaikan, segala kesusahan dan kesulitanmu akan ku mintakan hilang dari kehidupanmu”, pinta Rasul kepada sang sunan.
“Tidak ya Rasul, aku sudah tak butuh dan perlu apapun selagi hati dan tangan ini masih dalam genggaman tanganmu. Ini semua sudah cukup melebihi apapun yang saya butuhkan. Tak ada rasa berkecukupan selagi engkau masih mengenggamku dalam keadaan seperti ini”, jawab sang sunan menikmati suasana.
“Lantas apa yang kau inginkan sekarang?”, tanya Rasul.
“Hamba hanya ingin jangan kau lepaskan tangan ini sampai kapanpun, meskipun hamba harus meninggalkan jasad ini demi kelanggengan bersua bersama engkau”, jawab sang sunan.
“Benarkah hanya ini yang engkau mau? Bukankah kau ingin kembali pada keluargamu?”, tanya Rasul kembali.
“Tidak ya Rasul. Bawalah rohku bersamamu dan jangan pernah lepaskan genggaman tangan ini, itu semua sudah cukup menjadi hajatku”, sergah Sang Sunan kepada Baginda.
“Baiklah kalau ini sudah menjadi hajatmu”, pungkas Rasul menerima permintaan sang sunan.

Akhir cerita Rasululloh membawa sang sunan dan meninggalkan jasadnya di tengah hutan tempat dia bermunajat. Waktu berotasi hingga 40 hari, keluarga sang sunan sangat mengharap kepulangannya. Hari itu merupakan hari kepulangan yang telah dijanjikan sang sunan kepada keluarganya. Tengah malam keluarga didatangi sebuah suara gaib yang mengabarkan kematian sang sunan. Tempat dan segala wasiat terdengar jelas oleh suara gaib tersebut. Tanpa menunggu waktu akhirnya keluarga bergegas mencari jasad sang sunan. Alangkah terkagumnya seluruh keluarga sang sunan, karena melihat pemandangan yang sangat musykil. Segala ubo rampe upacara pemakaman telah siap meskipun di tengah hutan. Bahkan jasad sang sunan pun sudah di mandikan dan dikafani. Siapa gerangan yang telah merawat jenazah sang sunan?, rasa penasaran senantiasa melimputi keluarga. Ternyata jasad sang sunan dirawat oleh para malaikat penjaga bumi. Makam sang sunan tersebut kini terletak di sebuah desa Botoputih Tembarak. Nama yang cukup masyhur masyarakat menyebutnya dengan makam gasari atau nggasari. Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad.(@Aula.Far)
[Narasumber : Nur Budiman Ketua Umum PAC GP.Ansor Tembarak & K.Fuad]

Sabtu, 01 April 2017

SEPARUH WINDU KAU BERKUMANDANG

Sebuah impian memang terkadang bisa mengambil peran sebagai kabar langit. Entah masuk akal ataupun tidak dari impian tersebut. Alloh selalu mendengar do’a kita, karena kita sangat mafhum bahwa tak ada do’a yang tak mustajab. Dia pasti mengijabah do’a setiap hambanya. Entah dalam keadaan sirri ataupun ta’yin. Apalagi do’a yang terucap. Alloh-pun tahu dengan bisikan dalam hati kita. Namun kita diberi perintah untuk memanjatkan do’a sebagai bukti penghambaan kita kepada sang khaliq. Cukup seperti itu.

Empat tahun sudah berlalu, pasti Anda bertanya, apakah itu? Ya, empat tahun mengudaranya radio yang digagas muda-muda NU di Temanggung. Lintas kader, ya lintas kader dan lintas generasi, generasi muda juga generasi ‘sepuh’. Semua bersatu manunggal dalam impian yang sama. Alumni IPNU, alumni PMII yang kebetulan terwadahi dalam sebuah wadah KM9.

SANTIKA FM. Tak banyak yang tahu kepanjangan dari nama tersebut. Banyak orang menanyakan nama yang dirasa cukup feminim. “Kok Santika?” tanya Gus Mus ketika di’sowani’ crew beberapa bulan yang lalu. “Niku kepanjangan saking Swara Nawa Kartika, mbah” jawab Gus Shodiq Ngadirejo saat itu.

Nama Santika muncul kala pertemuan beberapa pengurus yang merumuskan nama dalam rangka melengkapi beberapa persyaratan pendirian radio. Gus Furqon, Pak Ikin, Pak Nurdin, dan penulis. Nama tersebut berkat usulan dari Pak Ikin, dan kebetulan rapat terbatas tersebut diadakan dikediaman beliau, Kauman Parakan. Swara Nawa Kartika hingga diakronimkan menjadi Santika. Nama tersebut sebenarnya sudah cukup mudah untuk diambil kepahamannya. Swara itu artinya Suara, Nawa itu berarti Sembilan, dan Kartika itu berarti Bintang. Bila kita gabung menjadi Suara Bintang Sembilan. Filosifi bintang sembilan kita nisbatkan kepada Nahdlatul Ulama. Dari nama tersebut tentu saja para pendiri dan pengagas radio ini sangat berharap menjadi Radio penyampai dakwah Nahdlatul Ulama. Apalah arti sebuah nama. Bagi tradisi NU nama bisa diambil sebagai kaca benggala bagi sang empunya nama. Ketika nama tersebut disodorkan kepada Jam’iyyah, pro kontra tak dapat terelakkan. Namun inilah sebuah dinamika. Para pendiri beranggapan ini sebagai bentuk iktiyar siyasah dakwah NU. Sehingga bila nama kita samarkan, kita berharap pendengan segmen umum akan menjadi penikmat radio kita, termasuk yang kurang sejalan dengan NU.

Tak terasa empat tahun berlalu. Perhelatan kita masih berjalan. Ada pula yang beranggap tiga tahun. Ini karena empat tahun secara De facto dan tiga tahun secara De jure. Dalam ultah tahun ini kita semua sangat berharap. Eksistensi radio kita akan naik, yang diimbangi dengan managemen profesional menuju radio yang figth.
Selamat Ultah yang ke-3 radioku. Tetap berkhidmat mensyi’arkan islam yang ramah. Dan islam yang rahmatan lil ‘alamin.


Temanggung, 2 April 2017

Biografi KH. Subkhi Jenderal Bambu Runcing

Kiai Subkhi lahir di Parakan Kauman, Temanggung, sekitar tahun 1855. Kiai Subkhi adalah putra sulung KH. Harun Rasyid, seorang penghulu masjid di desanya, dengan nama kecil Muhammad Benjing. Setelah berumah tangga beliau berganti nama menjadi Somowardojo. Setelah naik haji beliau berganti nama lagi untuk kedua kalinya menjadi Subkhi. Ketika masih bayi dalam gendongan ibunya, beliau dibawa mengungsi dari kejaran tentara Belanda dari satu desa ke desa lainnya. Maklum, waktu itu kakeknya, Kiai Abdul Wahab, putra Tumenggung Bupati Suroloyo Mlangi, Yogyakarta, adalah salah seorang anggota pasukan Pangeran Diponegoro yang ikut dalam Perang Jawa (1825-1830) melawan penjajahan Belanda.
Kiai Haji Subkhi adalah pengasuh Pesantren Parakan Kauman, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Beliau terkenal sebagai “Kiai Bambu Runcing” tempat ribuan pejuang kemerdekaan Indonesia di tahun 1945 menimba ilmu dan doa-doa untuk senjata mereka sebelum terjun ke medan laga. Menurut H. Anasom, M.Hum, peneliti sejarah dari IAIN Walisongo Semarang, Kyai Subkhi adalah pelopor penggunaan Bambu Runcing sebagai senjata perjuangan melawan penjajah Belanda.
Sisa-sisa pasukan Diponegoro usai penangkapan sang pangeran di tahun 1830 berpencar di beberapa tempat melanjutkan perlawanan di desa-desa sambil menghindar dari kejaran tentara Belanda. Termasuk kakek beliau yang mengundurkan diri bergerak menyusuri Kali Progo melalui daerah Sentolo, Godean, Borobudur, Bandongan, Secang, Temanggung, hingga akhirnya ke Parakan, sebuah daerah di bawah Gunung Pengantin, Sindoro-Sumbing. Daerah dataran tinggi ini menjadi tempat bertemunya sisa-sisa prajurit Diponegoro dari berbagai daerah. Tidaklah mengherankan jika penduduk Parakan mempunyai unsur kebudayaan yang bercampur antara ketulusan rakyat Banyumas, kesabaran rakyat Kedu, keberanian rakyat Pekalongan, dan keterampilan rakyat Semarang. Karakter kebudayaan seperti inilah yang diwarisi keluarga Kiai Subkhi.
Sejak kecil Kiai Subkhi dididik oleh ayahnya langsung dalam disiplin keagamaan yang tinggi. Setelah itu beliau nyantri di Pondok Pesantren Sumolangu, Kebumen, Jawa Tengah, di bawah asuhan Syekh Abdurrahman (ayahanda Kiai Mahfudh Somalangu yang terkenal itu).
Setelah Nahdlatul Ulama (NU) berdiri pada tahun 1926, Kiai Subkhi lalu ikut mendirikan NU di Temanggung, bersama beberapa kiai lainnya. Beliau menjabat sebagai Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU Temanggung, didampingi KH. Ali (pendiri Pesantren Zaidatul Ma’arif Parakan) sebagai wakil rais dan KH. Raden Sumomihardho (ayahanda KH. Muhaiminan Gunardo, wafat 1946) sebagai sekretarisnya. Sementara KH. Nawawi (wafat 1968) bertindak sebagai ketua tanfidziyah pertama. Keempat ulama perintis NU Temanggung inilah yang kemudian dikenal sebagai “Kiai-kiai Bbambu Runcing” di masa revolusi kemerdekaan.
Kiai Subkhi juga menaruh perhatian besar terhadap kaderisasi anak muda NU melalui Anshor NU (waktu itu disingkat ANO). KH. Saifuddin Zuhri misalnya menginformasikan bahwa sewaktu menjadi instruktur pengkaderan Anshor di Temanggung sekitar tahun 1941, menteri agama di era Sukarno ini menjumpai Kiai Subkhi juga ikut mendampingi anak-anak muda NU itu selama kegiatan kaderisasi – meski saat itu usia beliau sudah tergolong sepuh.
Ide Keadilan Sosial Kiai Subkhi
Untuk menutupi kebutuhan hidup keluarganya, beliau menggarap sawah dan bercocok tanam padi dan beberapa tanaman produktif lainnya. Tidak heran kalau beliau sukses sebagai petani, hingga dikenal kiai yang kaya. Tanahnya ada di mana-mana, terlebih di sekitar Kauman. Tapi kekayaan tersebut tidak membuat beliau kikir. Masyarakat sekitar Parakan juga mengenal beliau sebagai pemurah dan suka membantu orang-orang yang kesusahan. Jiwa sosialnya tinggi. Di usia tuanya, tanah-tanah itu diberikan kepada penduduk sekitar yang tidak mampu dalam bentuk kontrak musyarakah atau sistem bagi hasil. Hasilnya dibagi dua antara beliau sebagai pemilik tanah dan pihak penggarap tanah. Kadang hasilnya berupa keuntungan dalam bentuk cash, kadang juga dalam bentuk pembagian tanah. Kiai Subkhi memberi keuntungan yang terakhir ini kepada orang-orang yang tidak punya tanah. Inilah ide awal beliau tentang keadilan sosial dan kekeluargaan.
Menurut Kiai Subkhi, tidak ada artinya berbicara kesejahteraan, pemerataan pendapatan atau keadilan sosial kalau warga Indonesia tidak punya alat produksi berupa tanah. Dan tanah itu harus dibagi bersama dengan mempertimbangkan aspek kekeluargaan sesama warga Indonesia. Dari sini kemudian muncul ide tentang tanah berfungsi sosial yang menjadi inti ide sosialisme atau distribusi pendapatan. Dan praktik musyarakah (bagi hasil) yang sudah dikenal bangsa kita sejak berabad-abad merupakan instrumen utama untuk mewujudkan distribusi atau pemerataan pendapatan itu.
Seorang wartawan Amerika yang kemudian menjadi sarjana politik terkemuka, George McTurnan Kahin, dalam memoarnya berjudul Southeast Asia: A Testament (2003), pernah bertemu dengan Kiai Subkhi. Mereka berdua berdiskusi tentang tatanan sosial-politik yang adil, termasuk ide sosialisme yang digali dari dalam tradisi pesantren itu. Seperti ide tentang musyarakah – yang kemudian bermetamorfosa menjadi “masyarakat” dalam bahasa kita. Waktu itu Kahin, yang mengkader banyak mahasiswa Indonesia di Cornell dalam ilmu politik, datang bersama Roeslan Abdulgani, menjabat Sekjen Departemen Penerangan, ke Parakan pada minggu pertama Desember 1948. Ide Kiai Subkhi tentang musyarakah (kerja sama yang berkeadilan sosial) ini kemudian diwujudkan oleh para pendiri bangsa ini (founding fathers) ke dalam konstitusi negara baru kita dalam Pasal 33 ayat satu: “Perekonomian disusun berdasarkan usaha bersama atas asas kekeluargaan”.
Kiai Bambu Runcing
Di masa-masa awal revolusi kemerdekaan Indonesia, setiap hari ada ribuan pejuang bambu runcing yang sowan kepada Kia Subkhi di Parakan, untuk menuju ke front-front pertempuran di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahkan ada yang datang dari Jawa Barat. Tujuan utama para tamu ini adalah bertemu dengan Kiai Subkhi untuk meminta doa dan barakah beliau, termasuk meminta perkenan beliau untuk “menyuwuk” bambu runcing yang akan dibawa perang oleh para anggota laskar rakyat yang datang dari berbagai penjuru Tanah Air.
Menjelang pertempuran Ambarawa di bulan Desember 1945, Panglima Divisi V Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Kolonel Sudirman, sebelum menjadi Panglima Besar setahun kemudian, juga sempat singgah dari markasnya di Purwokerto ke markas BMT (Barisan Muslimin Temanggung) di Parakan dalam perjalanan menuju perang Ambarawa. Beliau sempat sowan dan minta barakah kepada Kiai Subkhi. Mantan Menteri Agama pada era Sukarno, Kiai Saifudin Zuhri menyebut kedatangan Kolonel Soedirman beserta pasukannya membawa peralatan tempur lengkap. Itu terjadi setelah bawahan beliau, Letnan Kolonel Isdiman, selaku komandan pasukan TKR, gugur dalam pertempuran Ambarawa melawan Sekutu pada tanggal 26 November 1945. Komando pertempuran Ambarawa lalu diambil-alih oleh tentara kader PETA ini. Mungkin karena keberkahan kiai Parakan ini, konon dalam cerita masyarakat, Jenderal Sudirman setiap kali akan terjun ke medan laga, terlebih dahulu mencari sumur warga untuk mengambil air wudhu.
Peran Kiai Subkhi seperti ini kemudian menjadi incaran tentara Belanda. Dalam agresi militer kedua yang dilancarkan Belanda pada Desember 1948, mereka memasuki kota Parakan dan menggebrak rumah beliau. Kiai Subkhi sempat menyelamatkan diri dan mengungsi keluar kota bersama beberapa kiai. Namun putra beliau, Kiai Abdurrahman, gugur tertembak setelah melakukan perlawanan. Ia merupakan syuhada pertama sejak Gerakan Bambu Runcing dari Kauman Parakan digelar. Presiden Sukarno kemudian menganugerahinya gelar pahlawan.
Didorong oleh semangat “Jihad fi Sabilillah” untuk mempertahankan tiap jengkal tanah air, dan didasarkan atas kasih sayang kepada anak-anak dan cucu-cucunya, Kiai Subkhi memberikan bekal berupa do’a kepada anak-anak “Hizbullah” maupun “Sabilillah” Parakan. Sebelum mereka berangkat ke pertempuran, sambil berbaris dengan bambu runcingnya masing-masing, mereka diberkahi oleh Kiai Subkhi dengan do’a khusus  “Laa Tudrikuhul Absar Wahuwa Yudrikuhul Absar Wahuwa Latiful Kabir,” dengan tiga kali membaca sembari menahan nafas. Atas kehendak Allah, doa (syuwuk) Kiai Subkhi yang diberikan kepada para pejuang yang menggunakan sejata Bambu Runcing untuk melawan penjajah, terbukti ampuh, sehingga dapat mengalahkan tentara Sekutu yang menggunakan senjata api. Kisah heroik inilah yang menjadikan Kiai Subkhi terkenal sebagai “Kiai Bambu Runcing”.   

Sumber :
1. Drs. H. Anasom M.Hum, Kiai dan Bambu Runcing; Mengungkap Peran Sejarah Kiai dan Bambu       Runcing Pada Masa Perang Kemerdekaan (Kajian Sejarah Lesan), 2012
2. Ahmad Adaby Darban: Fragmenta Sejarah Islam Indonesia, 2008.
3. Tulisan ini dipublikasikan bertepatan dengan kegiatan Sarasehan Pengusulan Kiai Subukhi Parakan sebahai Pahlawan Nasional Tahun 2016, di Pendopo Pengayoman Temanggung.

Minggu, 26 Maret 2017

SETETES AIR DAN TOKOH BESAR


Pernahkan Anda mendengar cerita tentang Imam al-Ghozali? Atau setidaknya mendengar kebesaran nama beliau? Beliaulah salah satu pendiri kampus tertua di dunia, Madrasah Nidhomiyyah Mesir. Beliaulah tokoh panutan kita dalam bermadzhab dalam bidang tasawuf. Bisa kita lihat flashback ke belakang, ternyata proses kebesaran nama beliau tak semudah dan tak seindah yang kita bayangkan. Ketika masa awal menjadi santri, beliau pernah mengalami keputusasa’an dalam pengembaraannya. Beliau sempat ‘mutung’ ketika itu. Hanya lantaran tetesan air yang menembus sebuah batu. Nalar berpikirnya muncul lantaran kejadian alam tersebut. Beliau berbalik seketika melihat kejadian tersebut. Dan hasilnya bisa kita lihat di zaman ini, nama beliau tak pernah absen dari khasanah ketokohan ilmu.
Bagaimana dengan kita? Setiap manusia memiliki riwayat hidup yang beragam. Baik dari proses dia mencari jati diri ataupun proses-proses yang lain. Tentu saja kesemuannya demi menuju sebuah insan yang kamil. Perkara sebelum kesempurnaan diri itu belum tergayuh, kok Sang Khaliq memanggil kita, itu sudah urusan lain, namun intinya kita sudah berproses untuk mencapai itu.

Saya ambil sebuah contoh bagi aktifis organisasi. Bila kita tilik jauh ke palung terdalam. Banyak hikmah yang terkandung di dalamnya, baik yang tersurat ataupun hanya tersirat. Dengan berorganisasi banyak hal yang bisa kita petik, dan itu semua tak jauh menuju berkehidupan seperti apa yang sudah diserukan oleh agama samawi.

1) Bersedekah

Tak hanya urun tenaga dan pikiran. Namun juga materi. Itulah sebuah kebiasaan bagi aktifis organisasi. Perkara besarannya tak seberapa, tentu saja sesuai kodar kemampuan ekonomi pribadi masing-masing person. Yang hanya satu lubang yang perlu diisi, namun beberapa lobang sudah senantiasa mengantri untuk ia ‘sambangi’ demi sukses dan berhasilnya misi dalam organisasi. Masalah kontinyu, yang semestinya itu ia jalani selama ia masih berkiprah dalam organisasi. Lambat laun hal ini akan menjadi kebiasaan, dari kebiasaan menjadi watak dan disinilah puncaknya ia menjadi seorang yang dermawan.

2)   Bermanfaat bagi orang lain

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Adagium inilah yang tak pernah lekang terbesit di telinga para aktifis organisasi. Dari kebiasannya menjadi pelayan orang lain, lagi-lagi itu menjadi watak dan kebiasan dalam hidupnya.

3)   Mampu memanusiakan manusia

Ini sangat penting. Betapa hal sepele akan menjadi besar ketika hal tersebut kita tinggalkan. Tahu posisi dan tahu diri, itulah salah satu karakter yang akan membentuk diri kita dengan lantaran aktif di organisasi. Kita sangat paham arti sebuah prosedur. Dan kita pun sangat paham arti sebuah proses. Tak ada kata yang namanya ‘mak bendhun-dhuk’. Semua ada alurnya, semua ada prosedurnya. Dalam berorganisasi tak ayal pasti diajarkan untuk melakoni sebuah prosedur yang ada. Sehingga dengan itu kita paham dan kita bisa memanusiakan manusia yang berperan di dalamnya. Meminjam bahasa jawa ‘ora unyak-unyuk’.
Terlalu sedikit bila hikman berorganisasi yang berjumlah tiga tersebut di atas, lain waktu kita sambung kembali.
Pesan sementara : “Berorganisasilah demi menuju diri yang sempurna, meskipun tak ada manusia yang sempurna”. Bila terpaksa ada sebuah tanya pilih organisasi mana? Maka saya harus jujur ikutlah NU dalam berorganisasi, karena didalamnya banyak terkandung berkah, NU itu tak hanya ngurusi urusan dunia namun lebih dari itu NU itu juga ngurusi urusan akhirat, Wallohua’lam
----------

BERSAMBUNG, insyaAlloh

Selasa, 14 Maret 2017

KAROMAH KIAI BISRI MUSTOFA, MEREVISI KARYA TAFSIRNYA SETELAH WAFAT


KH. Bisri Mustofa dikenal sebagai seorang kiai pengarang yang menulis beberapa buah kitab, khususnya dalam Bahasa Jawa, di antaranya (yang cukup terkenal) adalah Tafsîr al-Ibriz. Selain dikenal sebagai seorang kiai penulis, pengasuh Pondok Pesantren Leteh Rembang ini juga dikenal sebagai seorang orator dan politikus.
Sepeninggal KH. Bisri, KH. Mustofa Bisri atau Gus Mus (puteranya) mengaku mengalami suatu kejadian menarik yang sulit diterima akal pada umumnya. Diceritakan, Gus Mus kedatangan seorang tamu dari Cirebon (nama tidak dicatat) yang menyampaikan pesan KH. Bisri kepada dirinya.
“Anda Gus Mus?” tanya tamu dari Cirebon itu.
“Ya, saya Mustofa,” jawab Gus Mus.
Orang itu kemudian menyampaikan pesan yang baru saja diterimanya dari KH. Bisri Mustofa menyangkut karya besar dia, Tafsîr al-Ibrîz.
“Kiai Bisri berpesan agar Anda mengoreksi surat al-Fath karena di situ ada sedikit kesalahan.”
“Kapan Anda ketemu dia?”
“Kemarin, di Cirebon.”
Ketika Gus Mus memberi tahu bahwa KH. Bisri telah meninggal hampir empat puluh hari yang lalu, orang itu amat terkejut dan lunglai.
Sesudah itu, Gus Mus segera datang ke Kudus, menemui KH. Abu Amar dan KH. Arwani. yang dipercaya Penerbit Menara Kudus sebagai pen-tashhîh (korektor).
Informasi yang disampaikan orang dari Cirebon itu benar: ternyata, dalam surat al-Fath terdapat satu kesalahan (kecil) yang lolos dalam beberapa kali (koreksi). Dalam ayat ke-18 yang seharusnya berbunyi "laqad radhiyallâhu ‘anil mu’minîna …", tertulis "laqad radhiyallâhu ‘alal mu’minîna …".
Pengalaman yang sama juga dialami Gus Mus. Bedanya, yang kedua ini—yang juga dari Cirebon—datang untuk menyampaikan pesan KH. Bisri agar dirinya melanjutkan karya dia yang belum sempat diselesaikan.
“Anda ketemu sendiri?” tanya Gus Mus.
“Ya, saya ketemu sendiri di Cirebon,” tutur orang itu kepada Gus Mus. Keterkejutan yang sama juga dialami orang itu manakala diberi penjelasan bahwa KH. Bisri Mustofa sudah wafat.
Pengalaman aneh di atas seakan mempertegas kebenaran firman Allah: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan, mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran [3]: 169) “Di jalan Allah” bukan berarti harus berperang. Sebaliknya, menyebarkan ajaran-ajaran agama Islam juga masuk dalam kategori itu.

sumber : https://www.facebook.com/ (fb.Bagus Irawan)

DIDIN DAN AINI PIMPIN RANTING IPNU IPPNU JRAGAN

PROSESI PEMILIHAN KETUA Temanggung (25/12) bertempat di TPQ Kiai Juragan Desa Jragan Kecamatan Tembarak tak kurang dari 50 kader m...