Selasa, 14 Maret 2017
KAROMAH KIAI BISRI MUSTOFA, MEREVISI KARYA TAFSIRNYA SETELAH WAFAT
KH. Bisri Mustofa dikenal sebagai seorang kiai pengarang yang menulis beberapa buah kitab, khususnya dalam Bahasa Jawa, di antaranya (yang cukup terkenal) adalah Tafsîr al-Ibriz. Selain dikenal sebagai seorang kiai penulis, pengasuh Pondok Pesantren Leteh Rembang ini juga dikenal sebagai seorang orator dan politikus.
Sepeninggal KH. Bisri, KH. Mustofa Bisri atau Gus Mus (puteranya) mengaku mengalami suatu kejadian menarik yang sulit diterima akal pada umumnya. Diceritakan, Gus Mus kedatangan seorang tamu dari Cirebon (nama tidak dicatat) yang menyampaikan pesan KH. Bisri kepada dirinya.
“Anda Gus Mus?” tanya tamu dari Cirebon itu.
“Ya, saya Mustofa,” jawab Gus Mus.
Orang itu kemudian menyampaikan pesan yang baru saja diterimanya dari KH. Bisri Mustofa menyangkut karya besar dia, Tafsîr al-Ibrîz.
“Kiai Bisri berpesan agar Anda mengoreksi surat al-Fath karena di situ ada sedikit kesalahan.”
“Kapan Anda ketemu dia?”
“Kemarin, di Cirebon.”
Ketika Gus Mus memberi tahu bahwa KH. Bisri telah meninggal hampir empat puluh hari yang lalu, orang itu amat terkejut dan lunglai.
Sesudah itu, Gus Mus segera datang ke Kudus, menemui KH. Abu Amar dan KH. Arwani. yang dipercaya Penerbit Menara Kudus sebagai pen-tashhîh (korektor).
Informasi yang disampaikan orang dari Cirebon itu benar: ternyata, dalam surat al-Fath terdapat satu kesalahan (kecil) yang lolos dalam beberapa kali (koreksi). Dalam ayat ke-18 yang seharusnya berbunyi "laqad radhiyallâhu ‘anil mu’minîna …", tertulis "laqad radhiyallâhu ‘alal mu’minîna …".
Pengalaman yang sama juga dialami Gus Mus. Bedanya, yang kedua ini—yang juga dari Cirebon—datang untuk menyampaikan pesan KH. Bisri agar dirinya melanjutkan karya dia yang belum sempat diselesaikan.
“Anda ketemu sendiri?” tanya Gus Mus.
“Ya, saya ketemu sendiri di Cirebon,” tutur orang itu kepada Gus Mus. Keterkejutan yang sama juga dialami orang itu manakala diberi penjelasan bahwa KH. Bisri Mustofa sudah wafat.
Pengalaman aneh di atas seakan mempertegas kebenaran firman Allah: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan, mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran [3]: 169) “Di jalan Allah” bukan berarti harus berperang. Sebaliknya, menyebarkan ajaran-ajaran agama Islam juga masuk dalam kategori itu.
sumber : https://www.facebook.com/ (fb.Bagus Irawan)
AULA BUNDEL SATU TAHUN
AULA BUNDEL-merupakan kumpulan Majalah AULA kumpulan selama satu tahun. Sangat simpel, praktis dan ekslusive. Sangat penting bagi warga Nahdliyyin yang ingin merekam perjalanan NU selama satu tahun ke belakang. Untuk pemesanan bisa datang ke Alamat kami di TOKO BUKU BAROKAH ILMU TEMANGGUNG.
Sabtu, 04 Maret 2017
Kirimkan Profil Kiaimu Menjadi KIAI-KU IDOLA-KU
Kenalkah Anda dengan santri? Ataukan masyarakat santri? Atau
pecinta santri? Atau minimal orang yang menjadi penggemar/pencinta santri? Saya
berani memastikan Anda tahu dengan istilah-istilah tersebut meskipun tanpa
survey lapangan, atau setidaknya kuping Anda pernah dilalui kosakata yang cukup
familier tersebut.
Santri tak bila terlepas dari peran seorang Kyai. Ibarat
kata, tak akan ada asap bila tak ada api. Pun demikian dengan keberadaan
santri. Di mana ada santri bisa dipastikan ada sesosok Kyai yang dia ikuti.
Keduanya bagai dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan.
Sekarang coba kita tengok di sekitar kita. Adakah seorang
santri? Atau seorang Kyai? Minimal tokoh agama yang telaten dan ulet membina
warganya secara langsung, ‘muruk’i anak-anak kecil dengan huruf hijaiyahnya,
Pak Kaum, Merbot, Takmir, Imam Masjid/Langgar, atau apalah itu istilahnya yang
intinya beliau yang sangat telaten membina warganya dengan ikhlas dan sukarela tanpa
terikat dengan ikatan siapa/mana pun. Adakah itu? Saya jawab :”pasti ada”.
Beliau berjuang menjaga dan mengembangkan keislaman warganya tanpa embel-embel
apapun. Hanya dilimputi dengan niat ‘Lillahi
ta’ala’.
Terkesan kecil, remeh dan cukup sederhana sepertinya peran
beliau-beliau. Namun tak sesederhana itu. Dari sentuhan halus beliaulah muncul
Ulama’ pesantren. Dari sentuhan halus budi beliaulah muncul kader-kader Kyai.
Dan sebagainya. Beliaulah sang penjaga akidah warga kita, beliulah agen
perubahan, beliaulah sang visioner yang mempersiapkan kader-kader handal
generasi mendatang. Berkah keihlasan beliau-beliulah fan-fan ilmu diatasnya
mampu tergali.
Perlu dan penting rasanya kita segera menggerakkan pena
kita. Untuk merajut dan merekam jejak keikhlasan perjuangan beliau tersebut.
Mumpung matahari masih berada di ufuk, mumpung nafas masih berkesempatan
menghampiri tenggorokan kita. Mari gerakkan jari jemari merakit untaian alinea
sebagai darma bakti kita kepada gererasi yang akan menggantikan kita.
Semua ini kita lakukan dengan harapan mampu sebagai pelecut
perjuangan kita, sebagai ‘kaca benggala’ langkah kita.
Mencintai Kyai bagi kita merupakan sebuah keniscayaan.
Sebuah cinta hakiki tak cukup dengan lisan lewat tenggorokan. Namun untuk
menumbuhkan sebuah cinta hakiki butuh sebuah penghayatan dan kedekatan
emosional yang tinggi. Untuk menumbuhkan itu kita perlu mendekat, membaca,
menerawang seluruh rekam jejak kehidupan dan seluruh perjuangannya, sehingga
wasilah itu kita mampu mengilhami makna perjuangan yang sesungguhnya. Serta
kita menjadi ahli waris dari perjuangan Kyai kita yang telah mendahului kita
semua.
Semoga dengan menelusuri ruang perjuangan para Kiai, kita
mampu menjadikan Kiai sebagai Idola kita semua, semoga.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mari dukung program ini, dengan :
1. Mengirim artikel tentang biografi /profil Kiai
ke email : jafar.aula1926@gmail.com
disertai file rekaman dari HP, dan foto dokumentasi yang terkait dengan
tulisan.
2. Merekomendasikan salah satu nama Kiai di sekitar
Anda untuk kami tulis.
3. Program ini murni program nirlaba yang semoga
menjadi penebar kecintaan kita kepada Kiai.
4. Tulisan Anda akan kami muat di kiaikuidolaku.blogspot.com
5. Tulisan yang layak akan kami kirim ke Majalah AULA PWNU Jawa Timur.
Selasa, 28 Februari 2017
MBAH HASYIM AFIF MENGENANG KH ABDUL HADI SHOFWAN
Lumayan pagi saya sowan kepada salah satu santri cikal bakal pondok pertama ponpes Mu’allimin Jampirejo Temanggung. Beliau pernah nyantri di Tebu Ireng yang akhirnya diminta sebagai modal pondok pesantren Mu’alimin Jampirejo. Selain itu beliau juga pernah menjadi dosen STAINU Temanggung beberapa tahun yang lalu. Simbah Kyai Hasyim Afif, nama beliau. Tanpa alasan saya sowan kepada beliau. Sowan untuk melaksanakan tugas wajib bulanan(kirim majalah Aula NU), juga bermaksud wawancara kepada beliau seputar NU Temanggung, pada zamannya, lebih khusus mencari informasi tentang Mbah Hadi Shofwan. Banyak yang beliau sampaikan kepada saya. Bermodalkan lenovo A391i saya merekam ngendiko beliau yang nyaris lirih karena bersamaan suara lantunan ayat suci yang distel di ruang tengah.
Banyak hal yang saya peroleh tentang Mbah Hadi. Inilah kira-kira beberapa penuturan beliau tentang kiprah Mbah Hadi, baik di NU juga pengabdian dan jasa beliau dalam dunia pendidikan islam di Temanggung, selamat menyimak :
“Mbah Hadi mendirikan dan mengembangkan Madrasah Mu’allimin beserta beberapa cabangnya di tempat lain. Beliau menjadi pengurus PCNU Temanggung dan PWNU Jateng, hingga berlanjut sampai ke PBNU. Dalam pendirian gedung PCNU Temanggung, mbah hadi tokoh dominan sebagai pendiri bangunan tersebut.
Selain pendirian madrasah dan gedung PCNU Temanggung, beliau juga mendirikan MA Mu’allimin Temanggung yang kebetulan juga sebagai cikal bakal berdirinya MAN Parakan (sekarang MAN Temanggung) yang saat itu bertempat di MA Mu’allimin sebelum bertempat di Aloon-Aloon Temanggung. Drs Abdul Murid merupakan salah satu alumni Mu’allimin (Parakan, saat ini tinggal di Petir Ngadirejo) yang kemudian didudukkan sebagai Kepala Madrasah MAN Parakan ketika itu.
Tidak hanya itu STAINU Temanggung, juga berdiri berkat sentuhan tangan halus Mbah Hadi, yang ketika itu dirintis dari tempat komplek Mu’alimin Jampirejo. Ketika STAINU membutuhkan tenaga sebagai dosen, sikap moderat beliau tampilkan semata-mata demi kemajuan pendidikan tinggi di STAINU Temanggung. Beliu juga meminta Bapak Imam Puro yang kebetulan pengurus Muhamadiyah untuk menjadi salah satu dosen di STAINU Temanggung. ”Aku akon ora kon ngembangke Muhammadiyae kok, tapi aku butuhke ngelmune” tutur beliau sebagai jawaban hujjah beliau. Dalam hal perbedaan beliau sangat lunak dan moderat. Dalam struktural PCNU Temanggung ketika itu beliau sebagai Ketua Umum Tanfidyah, adapun yang duduk sebagai Rois Syuriyah kala zaman itu diasto oleh Simbah Kyai Abdul Mu’in Rohman Jampirejo.
Tak hanya sendiri dalam ngasto PCNU ketika itu. Muncul beberapa nama tokoh Temanggung turut serta membantu keberhasilan NU zaman Mbah Hadi. Kyai Afif Mastur (Mujahidin) beliau Anisah Mujahidin saat ini ikut menjadi Pengurus Yayasan al Kautsar Maron. Ada juga Mbah Mandhur sebagai sesepuh Temanggung kala itu. Bapak Ruslan Abidin kakak ipar Mbah Mat Bandanuji, beliau putra dari Bu Zam Mujahidin (Mbak dari Mbah Mat Bandanuji). Beliau (Bapak Ruslan Abidin) termasuk pengurus NU aktif, dimakamkan di sebelah selatan SMA 3 Temanggung. Bapak H Sutrasno M Noor Terminabuan, sebelah barat Mushola Terminabuan (istri beliau masih famili Mbah Hadi), Saluki Khoironi Butuh-pengurus NU aktif (Pejabat Depag ketika zaman Mbah Hadi) rumahnya jalan turunan Butuh arah ke timur rumah menghadap ke utara, Mbah Mat Bandanuji Mujahidin Temanggung Pengurus Ansor zaman Mbah Hadi bersamaan dengan Mbah Hasyim Afifi Kerokan Kedu. Serta beberapa tokoh NU lain yang belum terdeteksi lewat wawancara Mbah Hasyim Afif.[]
---------------------------------
Wawancara tanggal 8 Nopember 2016 kepada Simbah Kiai Hasyim Afif Kerokan Kedu, keponakan dan santri modal cikal bakal pesantren.
REKAM JEJAK SIMBAH KH.IDRIS PLUMBON SELOPAMPANG
[Suatu ketika Mbah Mangli muda menghadap sowan ke rumah Mbah Idris Plumbon. Sowan mengadap Kyai sepuh memang membawa aura tersendiri, beda tipis dengan pisowanan agung kepada Sang Ratu penguasa kedaton. Melihat Mbah Mangli datang kerumah, sontak Mbah Idris menyambut kedatangan beliau. "Monggo Kyaine Mangli, pinarak monggo mlebu mrene...!", perintah Mbah Idris menerima pisowanan Mbah Mangli muda. "Injih Mbah", jawaban Mbah Mangli muda atas sambutan tuan rumah. "Brengos dingu koyo majusi...!” kata Mbah Idris di depan Mbah Mangli muda. “Wonten pemes Mbah?” jawab Mbah Mangli muda. Tanpa menunda waktu, Mbah Mangli muda langsung menggunduli kumisnya. “Alhamdulillah bagos-bagos...” celetuk Mbah Idris melihat Mbah Mangli muda mencukur kumisnya]
Itulah sekelumit cerita tentang kharisma Mbah Idris yang masyhur di masyarakat Selopampang dan sekitarnya. Cerita di atas juga sebagai contoh ketakdhiman Mbah Mangli muda kepada Kyai yang lebih tua dari beliau. Sesuai falsafah kita, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda.
Tempat Tinggal Mbah Idris
Bertempat di sebuah desa kecil yang berdampingan dengan sungai progo, perbatasan Temanggung-Windusari Magelang, tepatnya Temanggung pojok selatan. Terdapat sebuah desa dengan nama Desa Plumbon. Desa tersebut merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Selopampang. Tepat berdampingan di ‘emperan’ selatan masjid Miftachul Huda Plumbon terdapat sebuah makam satu komplek dengan makam muslim desa Plumbon, di dalam makam tersebut terdapat jenazah Kyai Sepuh winasis satu kurun dengan Simbah Raden Alwi. Orang memanggil beliau dengan sebutan Mbah Idris Plumbon. Masjid Miftachul Huda Plumbon tersebut tepat berada di Garis Lintang -7.3824002 dan Garis Bujur 110.2123826. Masjid tersebut didirikan tahun 1951 dan di rehabilitasi ulang tahun 1997. Dan merupakan tanah wakaf dari Mbah Idris berikut komplek pelataran dan makam di samping masjid.
Jalur Nasab Mbah Idris
Mbah Idris Plumbon bernama panjang KH.Muhammad Idris bin KH.Hasan Wira'i. Ibu beliau bernama Ibu Pairah. Simbah KH.Hasan Wira’i adalah sosok seorang Kyai yang berasal dari Ndungus Sukorejo dan nyanti di jawa timur kemudian di sana di angkat sebagai menantu seorang Demang. Karena suatu hal, KH.Hasan Wira’i berpindah tempat ke Plumbon. Ketika bermukim di Plumbon beliau menikah dengan Simbah Pairah dan dikaruniai 2 keturunan bernama Ahmad Joyo Puspito dan Muhammad Idris. Ketika itu Mbah Pairah merupakan seorang janda yang sudah memiliki putra dengan nama Bapak Muradi yang akhirnya melahirkan seorang Kyai dengan nama Kyai Abdul Rosyid pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Plumbon saat ini.
Mbah Nyai Hj.Muntikanah (menantu) bercerita sambil peninggalan Mbah Idris berupa jubah, sarung, peci puluk dan serban yang pernah dipakai oleh Mbah Idris serta kitab kuning peninggalan Mbah Idris, bahwa :”Kitab – kitab niku tilaran saking Sultan Trenggono, keranten Mbah Idris niku tesih keturunan Sultan Trenggono”, tutur Mbah Nyai. Beliau juga menambahkan, pernah suatu ketika Mbah Idris ziaroh ke Makam Sultan Trenggono di Muneng Candiroto, kebetulan makam di kunci dan Mbah Idris berujar :”Nek aku pancen keturunan Mbah Sultan Trenggono mesthi wae kunci iki arep bukak dewe”. Setelah itu peristiwa ajaib muncul, tiba-tiba kunci makam tersebut membuka dengan sendirinya, sampai-sampai sang juru kunci marah-marah, dan akhirnya juru kunci tersebut meminta maaf kepada Mbah Idris.
Menurut Bapak Abdurrohman—cucu Mbah Idris dari Bp.KH.Djufri—Mbah Idris lahir pada Tahun 1870 Masehi. Beliau semasa dengan simbah Raden Alwi Randucanan Bandongan Magelang. Istri beliau yang ke-9 Hj. Siti Aminah berasal dari Kuwaraan Pirikan Secang, beliau merupakan adik dari KH.Sirodj Payaman yang masyhur dengan nama Simbah Romo Agung Payaman. Mbah Idris berkesempatan naik haji pada tahun 1921.
Bila kita amati dari petikan perbincangan Mbah Idris dengan Mbah Mangli muda tadi, bisa kita amati bahwa Mbah Idris lebih tua dari pada Mbah Mangli (KH.Hasan Asy'ari,Mangli Ngablak Magelang). Itu artinya beliau juga di atas lebih tua ketimbang Simbah Kyai Mandhur dan Simbah Kyai Chudlori Tegal Rejo Magelang, terbukti Mbah Idris sering menyuruh Mbah Mandhur atau Mbah Chudlori untuk mempimpin do'a bila berlangsung sebuah acara. “Dongani Kyaine Mandhur ! utowo Kyaine Chudlori ! sik luwi enom”, demikian kenang Nyai Hj.Muntikanah dalam ceritannya. Mbah Mandhur atau Mbah Chudlori sering sowan kepada Mbah Idris kala itu. Selain Mbah Mandhur dan Mbah Chudlori, Simbah Kyai Mangli juga sempat nyantri kepada Mbah Idris, meskipun sebatas ngaji tabarukan ataupun menyambung nasab kepada muallif kitab. Mbah Mangli ngaji dengan cara membuka kitab bagian awal, kemudian dilanjutkan membuka bagian akhir kitab begitu seterusnya. Demikian penuturan Simbah Nyai Hj.Muntikanah—menantu Mbah Idris. Bapak Abdurohman juga menuturkan bahwa Mbah Idris merupakan salah satu wali kutub pada zamannya.
Guru Mbah Idris
Pada usia muda, beliau hampir mengabiskan waktu mudanya untuk menuntut ilmu kepada Simbah KH.Makshum Punduh Salaman. Tak tanggung-tanggung, Mbah Idris muda menuntut ilmu kepada Simbah Makshum Punduh selama 21 tahun. Hingga akhirnya menikah dengan Ibu Nyai Siti Aminah salah satu Neng dari Kuwaraan Pirikan Secang Magelang kala itu. Pernikahan itu merupakan yang ke-9 kalinya. Dari hasil pernikahan itu dikaruniai 7 keturunan yakni Muslimah, Aminah, Abdul ghoni, Muhammad Rum, Asmuni, Komariyah dan Djufri.
Kedermawanan Mbah Idris
Beliau sosok yang sangat dermawan, ketika itu pernah memberikan sawah (3 kesuk red.jawa) kepada salah satu penduduk yang sering membantu beliau di sawah.
Pada zaman belanda rumah beliau pernah dijadikan sebagai camp markas para pejuang kemerdekaan. Menantu beliau bercerita bahwa ketika itu ada seseorang yang mau minta makan kepada Mbah Idris :”Mbah ajeng nyuwun maem’me”, kemudian Mbah Idris menjawab :”Raono panganane wis tak wehke tentara” jawab Mbah Idris kepada peminta tersebut. Setelah itu peminta tersebut lari hendak melaporkan infomasi tersebut kepada Belanda dan akhirnya dikejar mati di tembak oleh tentara, ternyata dia adalah telik sandi belanda. Dalam hal besedekah beliau tak tanggung-tanggung akan tetapi beliau sangat anti bila mentasyarufkan hartanya kepada hal yang tak ada manfaatnya, apalagi berfoya-foya.
Dalam membina 30 santrinya, beliau menanggung seluruh kebutuhan santri setiap harinya baik makan ataupun pakaian. Semua santri pun demikian, semuanya senantiasa membantu segala kerepotan Mbah Idris, khususnya dalam mengolah sawah olahan beliau. Bahkan beliau sering membagi-bagikan mukena kepada masyarakat.
Karomah Mbah Idris
Ketika itu beliau juga memiliki Kuda dengan nama Kuda Sukro, sebagai kendaraan dalam mengantar perjuangan beliau. Menurut penuturan salah satu santri beliau, Mbah Idris juga memiliki kemampuan untuk berjalan cepat, atau sering dikenal dengan Ilmu Lempit Bumi. Ketika itu sang santri menemani Mbah Idris untuk berdakwah di desa Butuh Selopampang, berangkat dari Plumbon hampir maghrib dan sampai di Butuh masih maghrib, padahal jarak Plumbon—Butuh berkisar 10 KM dengan medan yang terjal. Pernah pula, Mbah Idris berjalan dari Wonoroto Windusari pulang menuju Plumbon bersama santrinya menempuh perjalanan satu puntung rokok pun tidak habis. Selain itu Mbah Idris juga akan tahu kesalahan seseorang dalam membaca dalam Al Qur’an, padahal itu dalam usia yang cukup senja, ketika mendengar kesalahan tersebut Mbah Idris langsung menghardir si pembaca Qur’an tersebut.
Beliau juga terkenal sebagai pengamal ‘Dawamul Wudlu’ atau melanggengkan dalam keadaan suci dari hadas.
Ke-winasisan Mbah Idris juga menetes kepada salah satu salah satu putra beliau, yakni KH.Djufri. ketika di mintai pendapat keponakannya, yang ketika hijrah untuk bekerja di Jakarta. Keponakannya bermimpi bahwa, Ia sering diikuti babi hutan, Ia menanyakan tafsiran mimpi tersebut kepada KH.Djufri walhasil KH.Djufri memberikan tafsiran bahwa dalam Ia mencari nafkah di Jakarta, kebanyakan mendengati perkara yang di haramkan. Kemudian Beliau menyarankan untuk pulang dan menempuh pendidikan nyantri di Pondok Pesantren I’anatut Mujtahidin Blembeng Magelang di bawah asuhan Simbah KH.Mukhlasin—santri dari Simbah Chudlori Tegal Rejo. Suatu waktu beliau juga sempat berujar kepada keponakannya, bahwa suatu ketika kamu akan mendirkan pondok pesantren di tempat itu. Tunjuk KH.Djurfi kepada keponakannya tersebut, dan kini terbukti keponakan beliau yang bernama Abdul Rosyid telah mendirikan Pondok Pesantren Salafiyah Plumbon di tempat yang Beliau tunjuk tersebut sebagai penerus perjuangan Simbah Idris Plumbon. Kini dalam melanjutkan perjuangan Mbah Idris dan KH.Djufri itu, Kyai Abdul Rasyid melanjutkan Pengajian Kemisan yang merupakan wiridan Mbah Idris ketika itu.
Pada tahun 1960 beliau mendirikan pengajian di desa Ngemplak Petung Windusari bersama Pak Bakin, ditengah perbincangan dengan Mbah Bakin—tokoh Ngempak—beliau pernah berkata bahwa yang menjadi Presiden setelah Pak Karno adalah Soeharto,”Kin, saiki dewe wis duwe presiden anyar jenenge Soekarno, sak lebare Soekarno sesuk jenenge Soeharto”, kata Mbah Idris kepada Pak Bakin. Dan hingga kini pengajian selapanan itu masih dilestarikan oleh cucu beliau. Tiap tanggal 8 Syawal di adakan Pengajian Syawalan dan Haul Simbah Demang Surwo Purwoto.
Menurut penuturan simbah Son Haji Sumber Ketandan(Alm) : beliau menuturkan bahwa di alam barzah Mbah Idris terlihat duduk nyaman dan berlapiskan Karpet Hijau tebal yang tebalnya tidak dapat di ukur dengan jemari tangan (berkisar 15-san cm) ini menjadi salah satu pertanda kemuliaan beliau.
Di tengah-tengah perjalanannya belia sering mengamalkan bacaan Hauqolah(bacaan Lahaula Wala Quwwata Illa Billahil ‘aliyyil ‘adzim) dan Hizib Autad 7 kali setelah sholat maktubah, serta tak pernah putus dalam bertahajud.
Mbah Idris di Rindukan Sang Kholik
Malam kamis legi Pukul 19.30 17 April 1976 bertepatan 29 Robi’ul Akhir malam, rupanya Sang Kholik telah merindukan kehadiran Mbah Idris, beliau menghadap Sang Kholiq pada usia 106 tahun. Usia yang di habiskan untuk mengabdikan diri kepada agama dan masyarakat. Dalam sambutannya kewafatan Mbah Idris, Mbah Raden Alwi—Randucanan Bandongan Magelang—menuturkan bahwa :”Niki sing ajeng ngantos benjing putro ragil nak Djufri”. Terbukti kurun waktu setelahnya KH.Djufri-lah yang melanjutkan pesantren Mbah Idris.
RUMAH PENINGGALAN MBAH IDRIS
KITAB KUNING PENINGGALAN MBAH IDRIS
MAKAM MBAH IDRIS
SERBAN & PECI PENINGGALAN MBAH IDRIS
RUMAH MBAH IDRIS (bagian dalam)
FOTO MENANTU &
CUCU MBAH IDRIS MENGENAKAN JUBAH PENINGGALAN MBAH IDRIS
JUBAH PENINGGALAN MBAH IDRIS
Sumber Tulisan :
· Wawancara dengan Menantu
Mbah Idris Nyai Hj.Muntikanah (istri dari KH.Djufri—Putra ke-7 Mbah
Idris) dan Bapak
Abdurolrohman Cucu kesayangan Mbah Idris—Putra terakhir dari KH.Djufri.
· Wawancara pada Ahad, 4
September 2016 bertepatan 2 Dzulhijjah 1437 Hijriyah di rumah Nyai Hj.Muntikanah
Plumbon Selopampang Temanggung.
Langganan:
Postingan (Atom)
DIDIN DAN AINI PIMPIN RANTING IPNU IPPNU JRAGAN
PROSESI PEMILIHAN KETUA Temanggung (25/12) bertempat di TPQ Kiai Juragan Desa Jragan Kecamatan Tembarak tak kurang dari 50 kader m...
-
[Suatu ketika Mbah Mangli muda menghadap sowan ke rumah Mbah Idris Plumbon. Sowan mengadap Kyai sepuh memang membawa aura tersendiri, be...
-
SIMBAH KIAI RAOYAN MENGGORO, PENGASUH SELAPANAN YANG BANYAK KAROMAH Membaur dengan budaya dan tradisi. Itulah cara elegan para waliso...
-
SUNAN MADUSARI. Sebuah nama yang cukup asing di telinga kita, terutama warga Temanggung. Apalagi warga luaran Temanggung. Bila Anda berke...



























